3G (baca: triji) Indonesia telah geger, dan kini tinggal berita tak ada berita. Mengapa? Karena Kwalitas Jaringan di Indonesia sangat memprihatingkan. Berita itu sempat dirilis oleh Kompas seperti kutipan dibawah ini. Namun alasan yang sesungguhnya adalah ‘Network Design dan Coverage Area’. Dalam suatu kesempatan dilakukan percobaan oleh PT. Micro Tellindo untuk delivery Video melalu kamera CCTV dengan menggunakan network yang disediakan oleh salah satu operator, ternyata tidak seperti yang diharapkan, misalnya kemampuan 3G di China.
Kami mengutip tulisan saudara Ventura Elisawati :
Kamis, 30 Agustus 2007
Teknologi “broadband”
Ke Mana 3G di Indonesia?
Gegap gempita promosi 3G (baca: triji) di Indonesia sepertinya sudah mulai surut. Promosi untuk menularkan demam video call bagi pengguna ponsel seperti kena kompres air es, tak lagi panas malah perlahan mendingin. Begitu pula dengan aplikasi lainnya, seperti video streaming atau mobile TV yang awalnya diprediksi bisa menjadi killer application yang akan melambungkan layanan 3G.
Sudah satu setengah tahun 3G dioperasikan secara komersial di Indonesia, tetapi belum ada tanda-tanda menemukan aplikasi ampuh, seperti halnya SMS di era 2G. Apa yang salah? Padahal, generasi ke-3 teknologi GSM ini benar-benar nyaris menguras investasi operator pemegang lisensi 3G.
Untuk mendapat lisensi saja, misalnya, operator harus unjuk pundi-pundi modal dalam tender terbuka yang dilakukan pemerintah. Saat itu, Telkomsel menawar dengan harga Rp 218 miliar, XL dengan Rp 188 miliar, dan Indosat Rp 160 miliar untuk masing-masing 5 mhz frekuensi 3G. Hasilnya, setelah dibebani upfront fee dan BHP frekuensi 3G, operator pemenang tender setidaknya harus mengeluarkan lebih dari Rp 500 miliar.
Setelah mengantongi lisensi, ketiga operator masih harus membenamkan investasi yang tidak kecil untuk pembangunan infrastruktur. XL, misalnya, di tahap awal saja sudah merogoh kocek 100 juta dollar AS. Indosat dalam dua tahun diproyeksikan menghabiskan 300 juta dollar AS. Adapun Telkomsel tak tanggung-tanggung, menganggarkan Rp 3 triliun untuk tiga tahun.
Lalu, bagaimana dengan pemilik lisensi 3G terdahulu, yang sama sekali belum memiliki infrastruktur? Hutchinson, misalnya, dalam dua tahun pertama sudah habis 300 juta dollar AS. Diproyeksikan, sampai tahun 2010 akan menelan investasi sampai 1 miliar dollar AS.
Apakah investasi itu hanya untuk mengejar teledensitas pengguna ponsel dengan menawarkan konten-konten yang tak jauh beda dengan era 2G? Tampaknya para operator 3G sudah mulai menyadari bahwa mengembangkan 3G hanya bertumpu pada konten adalah jauh panggang dari api.
Ini karena kehebatan konten yang bakal jadi senjata pamungkas bukan di tangan operator, tetapi di content provider (CP). Padahal, saat ini CP di Indonesia belum ada yang sekaliber CP di negeri lain, seperti Hongkong atau Thailand, yang bisa menciptakan 3G online game, seperti Wa-Wa Game Park buatan MAS Technology yang memenangi China Mobile MMOG Gold Awards 2006 untuk Best Interactive Award. Yang saat ini sepenuhnya ada di tangan operator adalah kekuatan jaringan dan coverage.
Terbatas
Pembangunan jaringan 3G yang kini sudah ada di beberapa kota besar merupakan senjata baru bagi operator 3G untuk memasuki era konvergensi, di mana telekomunikasi masa depan adalah produk-produk berbasis internet protocol (IP). Salah satu keunggulan teknologi 3G adalah kemampuannya menyalurkan komunikasi data dengan cepat.
Ringkasnya, 3G identik dengan mobile broadband internet. Bisa dipastikan akses internet melalui jaringan 3G jauh lebih nyaman dibandingkan dengan koneksi jenis lain yang sekarang banyak digunakan oleh para pengakses internet.
Secara teori, jaringan 3G mampu menyalurkan data dengan kecepatan 384 Kbps terutama untuk uplink (dalam kondisi bergerak) sampai di 1,6 Mbps ketika diam. Jika Node B (BTS 3G) dipasangkan dengan perangkat high speed downlink packet access (HSDPA), kecepatannya bisa mencapai 7,2 Mbps. Kemampuan 3G-HSDPA untuk mengakses internet inilah yang saat ini tengah gencar dipasarkan ketiga operator 3G, T-Sel, Indosat, dan XL.
Persoalannya, saat ini Node B 3G-HSDPA baru ada di kota-kota tertentu sehingga keunggulan akses internet melalui 3G dan HSDPA tentu saja baru bisa dinikmati secara terbatas. Lain halnya dengan GPRS. Dengan desain jaringan GPRS (juga EDGE), 3G, dan HSDPA memungkinkan pengguna mobile internet tetap bisa akses saat bergerak, dengan kecepatan yang variatif (50 Kbps-di atas 1 Mbps).
Namun, haruslah diingat 3G-HSDPA memiliki keterbatasan dalam hal kapasitas. Satu Node B idealnya bisa dipakai sampai sekitar 10-20 orang (secara bersamaan) untuk bisa mendapatkan akses prima. Untuk bisa meningkatkan teledensitas, bisa dibayangkan berapa banyak Node B (baca: investasi) yang dibutuhkan.
Memilih 3G
Yang jelas, bisa diprediksikan akses internet melalui 3G akan menjadi pilihan masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi, tetapi tetap ingin selalu terhubung dengan jaringan internet. Survei Novatel Wireless di AS menunjukkan bahwa 48 persen eksekutif memilih datacard 3G untuk mengakses internet menggunakan laptop. Cara ini dianggap mengurangi kerepotan berkoneksi ke internet dan mempercepat waktu kerja meskipun pada saat libur.
Ada tiga alasan mengapa 3G menjadi pilihan koneksi internet. Pertama, mobilitas, di mana saja sepanjang ada jaringan 3G bisa dilakukan koneksi ke internet. Kedua, kecepatan sekelas broadband dari 358 Kbps hingga 1,6 Mbps. Ketiga, gampang digunakan baik dalam prosedur berlangganan maupun proses instalasinya.
Seperti dipaparkan Christ Anderson dalam bukunya The Long Tail, di negara-negara yang penetrasi broadband-nya sudah tinggi telah terjadi metamorfosis kultural, tumbuhnya ceruk pasar dalam jumlah besar. Di Indonesia, pemanfaatan 3G untuk akses data (internet) saja baru sekitar 20 ribuan, sedangkan pengguna internet pada 2006 tercatat sekitar 20 jutaan atau sekitar 6 jutaan pengguna broadband (termasuk ADSL).
Menurut Chris Anderson, di masa mendatang broadband dan konten akan menjadi kunci sukses transformasi kultur teknologi komunikasi informasi (TKI). Di Indonesia, gaungnya memang sudah mulai ditabuh, tetapi perjalanan untuk menjadi sebuah orkestra masih masih sangat jauh.
Sebuah penelitian di Amerika mengatakan bahwa sebuah teknologi infrastruktur akan memberikan keuntungan secara makro bila deployment dari teknologi tersebut telah mencapai penetrasi minimal 50 persen dari total populasi.
Yang pasti, menjadikan teknologi mobile broadband saja sebagai sarana transformasi kultural TKI rasanya terlalu berat. Segmen 3G tetap akan di mobility dan nomadic, itu pun di wilayah yang dianggap pasarnya ada.
Untuk menjadikan 3G sebagai akses data yang bisa menjawab kebutuhan data masyarakat luas dengan biaya terjangkau, baik 3G maupun HSDPA memerlukan “teman” seperti WIMAX atau BWA yang biaya deployment-nya jauh lebih rendah ketimbang 3G. Dengan begitu, penyebaran akses internet nirkabel yang notabene paling cocok untuk negara kepulauan seperti Indonesia akan lebih cepat terlaksana.
Ventura Elisawati General Manager Integrated Marketing Service, XL Business Solutions. E-mail: vlisa@xl.co.id